Langsung ke konten utama

Goresan Pena

Seperti biasa siang itu aku menyusuri jalan Kalmong ( Kalimongso ) Bintaro dengan langkah gontai. Ku langkahkan kakiku menapaki gang-gang sempit yang berhias kamar-kamar indekos. Pemandangan yang tak asing bagiku setelah hampir dua setangah tahun lebih aku bergelut dengan panasnya tanah Bintaro.

Foto : Tim Makrab 5B
Siang itu seperti siang-siang pada umumnya panas....nmaun aku tetap berjalan menyusuri gang sempit Kalmong-datang ke kelas. Naas aku sudah terlambat hingga akhirnya kau mendapat kursi depan,depan dan teramat depan. 

Rasa panas yang sudah aku tahan -tahan sedari tadi akhirnya terbayarkan dengan belaian lembut AC kelas "Ahhhhh......segarnya". Aku mulai membuka buku ,ku buka lembar-demi lembar namun kosong,kau tahu kenapa ? Karena aku membuka buku catatan,bukan buku pelajaran.

Tak lama Sang Dosen datang, datang salam dan akhirnya duduk di singgasananya,murid-murid terdiam,hening. Hingga akhirnya sang Dosen mulai memanggil nama satu per satu. Tak lupa disambung dengan sebuah materi yqnag mesti kita kuasai namun entah aku sampai sekarang tak tahu,selama ini aku belajar hanya untuk sebuah angka. Angka yang mesti ku peroleh demi lolos dari ranjau-ranjau tak bertuan.

Tak terasa, lima semester sudah aku jalani itu berarti aku dan teamn-teman telah bergulat dengan medan perang selama sepuluh kali . "Apakah aku sudah berpengalaman ?", aku rasa tidak. Selama ini pula aku masih diselimuti kegundahan,ketakutan  bahwa kekhawatiran diriku sendiri. Aku mencoba untuk bersiap tapi aku selalu mundur. Mundur bahkan sampai ke belakang.

Haruskah aku menyerah dengan semua ini ? Itu jawaban yang sulit,bahkan aku sendiri tidak mampu untuk menemukan jawaban dari pertanyaanku sendiri. Konyol...


Bintaro, 16 April 2018

Komentar